Tindakan berbagai bagian masyarakat harus ditekan oleh pemerintah yang terhubung dengan baik. Artinya, acara G20 di bulan November bisa terselenggara dengan aman.
Mamit Setiawan, direktur eksekutif Energy Watch, mengatakan kepada kantor berita politik RMOL pada Minggu (9/11) tentang reaksi publik yang meluas terhadap kenaikan harga minyak, yang diperkirakan akan merugikan seperti Indonesia.
Menurut dia, tuntutan untuk membalikkan kenaikan harga BBM akan menyulitkan pemerintah.
"Saya kira sulit untuk membatalkan karena tidak berguna. Kalau BBM turun, transportasi, harga komoditas turun? Lalu tiba-tiba, setelah G20 (BBM) misalnya naik lagi, jadi masalah lagi," kata Mamita.
Dia berharap, pemerintah akan berbicara kepada publik tentang kenaikan harga bahan bakar saat ini. Jika memungkinkan, pemerintah harus menghubungi semua pihak untuk mendapatkan penjelasan.
Mamit mengakui kenaikan harga minyak akan merusak citra Indonesia. Selain itu, media asing berulang kali menyatakan bahwa Indonesia adalah tuan rumah G20.
"Jadi unjuk rasa itu tidak buruk, tapi penting, jangan repot-repot. Kalau membajak SPBU, jangan lakukan, unjuk rasa akan baik-baik saja," katanya.

Komentar
Posting Komentar