Sekelompok pengunjuk rasa yang disebut "Rakyat" dan "Demokrasi" memblokir Jalan Protokol, menyebabkan kemacetan lalu lintas.
Ada rasa rindu, ada rasa takut.
Di satu sisi, orang diminta belas kasihan karena "nama" mereka dipinjam dari tindakan mereka.
Di sisi lain, saya tidak tahu berapa banyak "orang" lain yang menderita akibat tindakan ini karena mereka terlambat ke kantor atau mendapat alasan dari pelanggan untuk keterlambatan pengiriman pesanan.
Apakah aktivis yang mencurigakan hari ini?
Jika isu yang mereka protes benar-benar mewakili kepentingan rakyat, bukankah seharusnya mereka berperilaku sedemikian rupa sehingga menarik perhatian mereka sendiri?
"Upaya provokasi" semacam itu harus disertai dengan opsi "Ambil bagian atau kalah?"
Intinya, demokrasi bukan hanya tentang berjuang keras dan melepaskan akal sehat.
Ketidakpercayaan terhadap pemerintah atau politisi tidak boleh ditunjukkan dengan cara yang menciptakan ketidakpercayaan versi baru.
Dalam hal kapital, strategi ini dapat mewujudkan suatu jenis keegoisan yang luar biasa tanpa memperhatikan kepentingan-kepentingan alternatif.
Misalnya, apakah protes serikat pekerja atas upah memperhitungkan nasib para penganggur atau kepentingan mereka yang masih mencari pekerjaan?
Pertanyaannya, apakah tuntutan mereka akan dipenuhi, apakah berdampak langsung terhadap nasib para pengangguran dan pencari kerja?
Tentu efek langsungnya hanya akan dirasakan oleh mereka yang sudah menjadi pekerja kasar atau pekerja tidak terampil.
Sedangkan bagi mereka yang masih menganggur atau dalam tahap penelitian, dampaknya tentu akan sangat tertunda atau bahkan tidak terasa.
Catatan ini hanya sebagai pengingat agar para aktivis tidak terjebak dalam skema pembentukan generasi "buta-tuli" baru, seperti yang tersebar di seluruh gedung pemerintahan dan parlemen.
Jangan menampilkan karakter arogan atas nama demokrasi dan rakyat, seperti yang terjadi di DPR.
Jika ini terjadi di masa depan, tentu hampir tidak ada bedanya dengan partai politik yang berulang kali dituding menggunakan demokrasi dan rakyat sebagai topeng dan mengatasnamakan dirinya.
“Maaf, menaikkan harga BBM sangat sulit. Tapi pas dorong motor ke SPBU dan harus ditambah lagi karena terjebak macet, seperti jatuh dari tangga," katanya. sebuah ilustrasi yang tiba-tiba muncul di pikiran. .
Makna perjuangan rakyat akan tampak lebih sempurna jika tidak dibarengi dengan munculnya masalah-masalah baru.
Menurut saya, negara maju atau pemerintahan yang sukses bukanlah negara yang memaksimalkan subsidi kepada rakyatnya, tetapi negara yang memungkinkan semua warganya hidup sejahtera tanpa subsidi.
Jadi kata kuncinya di sini adalah "pemberdayaan", bukan "penipuan".

Komentar
Posting Komentar